Aku dan dirinya termenung. Memandang manisnya pelangi yang tersenyum malu di kala senja. Hening. Tak muncul sepatah katapun dari mulutku atau pun mulutnya.
Aku berdiri. Bersama dia. Dia mengikuti gerak gerik langkahku. Dia hitam kelam. Namun setia. Wujudnya membesar di kala senja, di kala matahari menyinariku dari barat.
Kami serupa, namun tak sama. Dia ada karena diriku. Tapi tidak sebaliknya.
Siapa dia? Apakah dia hantu?
Siapa dia? Apakah dia hanya imajinasiku?
Siapa dia? Siapa dia?
Dia adalah refleksi diriku yang berwarna hitam kelam, yang bernama, Bayangan.
Apa aku gila? Berteman dengan refleksi hitam dari diriku sendiri.
Apa aku gila? Berbicara dan tersenyum terhadap zat hitam tak bernyawa
Apa aku gila? Mengagumi sosok bisu yang hanya bisa mengikuti gerak gerik raga ini.
Dewasa ini, siapa yang ingin memuji bayangan? Seperti tidak ada hal lain saja yang patut untuk dikagumi. Dasar gila.
Namun, menurutku, aku tidak gila.
Aku hanya mengangumi apa yang biasa tidak dikagumi.
Terimakasih, Kawan. Terimakasih, Bayangan. Yang telah menjadi teman khayalanku selama ini. Yang setia menemaniku dikala kesendirian dan kesepian menyapa. Walaupun dirimu bisu, tapi aku menghargai kehadiranmu.
Terimakasih, Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar