Kamis, 16 Februari 2012

mungkin, ada kata lelah dalam bekerja. namun, tidak ada kata lelah dalam mengabdi dan berkontribusi.
Kami semua bintang kejora.
Kami semua sama.

Tapi sinar kami berbeda-beda.

Disini kami, 19 anak terpilih, berdoa dengan penuh harap.
Agar diterima di bumi ganesha.
atau mendapat jaminan memiliki jaket kuning.

dari 19 anak itu, aku pasrah.
dari 19 anak itu, aku peringkat terakhir.
bukan merendah, namun ini kenyataan.

Mungkin mereka yakin seraya berharap.
tapi aku, hanya bisa tersenyum seraya berharap.
menunggu keajaiban itu menjemputku, tidak ada yang tidak mungkin bukan?
namun bila mimpi itu tak segera menjemputku, aku akan tetap menegakan kepala, dan tersenyum.
karena aku yakin, mimpi aku akan segera menjemputku, suatu saat nanti.

dari 19 anak itu ada 3 anak yang aku harap bisa memiliki jaket kuning.
tolong Ya Allah,
mereka adalah bintang kejora, yang sinarnya tak kalah indanhnya dengan sinar rembulan.

Biar aku saja yang berjuang dalam kerasnya ujian tertulis.
tolong loloskan mereka bertiga ya allah.

tak terbayang bilamana harapanku menjadi nyata, mungkin aku orang pertama yang akan menangis bahagia mendengar kabar baik itu.

Loloskan mereka di jalur ini ya allah.
bila ada keajaiban, loloskan aku juga ya allah.
aku tidak pesimis. namun, aku tau diri.
dan tidak akan berhenti berharap.



Aku membisu dalam kemarahan.
Memandang dengan pandangan arogan ke sekelilingku.

Aku termenung dalam kesedihan.
Memandang dengan mata sayu ke sekelilingku.

Aku tertawa dalam kebahagiaan.
Memandang dengan mata berbinar ke sekelilingku.

Aku tak berkutik dalam kepasrahan.
Aku tak bisa memandang dengan pandangan arogan, mata sayu apalagi mata berbinar.
Aku hanya bisa memandang penuh harap ke sajadah itu,
Aku hanya bisa memeluk erat kitab itu,
dan aku hanya bisa menunggu takdirmu dalam diam dan dalam kesunyian.

Ya Allah, aku mohon petunjukmu Ya Allah.
Tolong aku Ya Allah.
Tolong..



Jangan pernah memandang orang dengan sebelah mata. Malahan, dengan dua mata saja sebenarnya juga tidak cukup. Sesungguhnya perspektif itu lebih luas dari yang kau kira.

Jumat, 10 Februari 2012

Aku dan dirinya termenung. Memandang manisnya pelangi yang tersenyum malu di kala senja. Hening. Tak muncul sepatah katapun dari mulutku atau pun mulutnya.

Aku berdiri. Bersama dia. Dia mengikuti gerak gerik langkahku. Dia hitam kelam. Namun setia. Wujudnya membesar di kala senja, di kala matahari menyinariku dari barat.

Kami serupa, namun tak sama. Dia ada karena diriku. Tapi tidak sebaliknya.

Siapa dia? Apakah dia hantu?
Siapa dia? Apakah dia hanya imajinasiku?
Siapa dia? Siapa dia?

Dia adalah refleksi diriku yang berwarna hitam kelam, yang bernama, Bayangan.

Apa aku gila? Berteman dengan refleksi hitam dari diriku sendiri.
Apa aku gila? Berbicara dan tersenyum terhadap zat hitam tak bernyawa
Apa aku gila? Mengagumi sosok bisu yang hanya bisa mengikuti gerak gerik raga ini.

Dewasa ini, siapa yang ingin memuji bayangan? Seperti tidak ada hal lain saja yang patut untuk dikagumi. Dasar gila.

Namun, menurutku, aku tidak gila.
Aku hanya mengangumi apa yang biasa tidak dikagumi.


Terimakasih, Kawan. Terimakasih, Bayangan. Yang telah menjadi teman khayalanku selama ini. Yang setia menemaniku dikala kesendirian dan kesepian menyapa. Walaupun dirimu bisu, tapi aku menghargai kehadiranmu.

Terimakasih, Tuhan.
Sahabat.

Tuhan, mengapa engkau ciptakan mereka tuhan?

Mereka terlalu sempurna untuk dilahirkan ke dunia ini.
Mereka punya kemampuan yang luar biasa.
Mereka mampu menghapus air mata ini tanpa selembar kertas tisu pun
Mereka mampu merubah garis lurus di bibir ini, menjadi lengkungan manis yang tak kalah manisnya dengan lengkungan pelangi.

Mereka Sungguh Hebat
Dan, Engkau sungguh Mulia Ya Allah.

Terimakasih, telah melahirkan mereka di dunia ini. Ketulusan, kebaikan, dan kebersihan hati mereka membuat ku bertanya-tanya.

Wahai kawan, Kamu benar manusia? Bukan Malaikat?

Hanya senyuman ikhlas mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Sekali lagi, Terimakasih Ya Allah.

Rabu, 08 Februari 2012

C.I.N.T.A

Saya agak setengah hati menulis tentang ini. Mungkin anda sekalian berfikir, kalau setengah hati, buat apa ditulis? Salahkan jari saya. Dia bergerak tanpa dikomando.

Hm, Hebat sekali ya kata yang satu ini. Sederhana memberi makna. Makna yang tentu tidak semua orang memiliki penafsiran yang sama.

Berjuta-juta orang (tanpa menggunakan majas hiperbola) bahagia karenanya.
Berjuta-juta orang (masih tidak menggunakan majas hiperbola) kecewa karenanya.

Saya termasuk irisan keduanya. Saya pernah bahagia karena cinta. Saya juga pernah kecewa karena cinta.

Bila kita lihat dari perspektif bahagia, pasti cinta dijunjung tinggi keagunganya.
Namun,
Bila kita lihat dari perspektif kecewa, pasti cinta diinjak-injak martabatnya.

Kasihan ya cinta.


Dasar Cina!

Dasar Cina!

Kalimat itu tidak asing lagi di telinga Pribumi.

Kebencian masa penjajahan, yang dimana warga tionghoa terutama pedagang, derajatnya lebih tinggi dibanding orang pribumi. Namun itu dulu. Sekarang semua sama. Kita telah merdeka. Namun karena kebencian masa lalu itulah, muncul perlakuan Diskriminasi. Dari warga negara indonesia pribumi terhadap mereka yang keturunan Tionghoa. Zaman berganti, Kebencian menjadi-jadi.

Buat apa hal seperti ini di lanjutkan? Mana asas kita yang dijunjung tinggi itu? "BHINEKA TUNGGAL IKA". Berbeda-beda namun tetap satu. Ngakunya mengayomi perbedaan. Kenyataanya mempeributkan perbedaaan.

Mata sipit, belo, kulit putih, kulit hitam, rambut ikal, rambut lurus, segala sesuatu itu mutlah ciptaan yang maha kuasa. Bermiliyar orang di muka bumi ini, tidak memiliki rupa yang sama. Sekalipun kembar, pasti ada detail kecil yang membedakan. Subhanallah.

Begitupula Etnis. Etnis bukanlah hal yang bisa dipesan. Disinilah takdir berbicara. Jika orang itu terlahir cina, tidak mungkin ia tumbuh dewasa sebagai orang bule.

Hargailah perbedaan. Perbedaan itu Rahmat. Perbedaan itu Indah. Hidup jika tidak ada Perbedaan akan terasa monoton sekali. Manfaatkanlah perbedaan itu untuk hal yang positif, jangan jadikan perbedaan menjadi ajang untuk saling menjatuhkan.

Pribumi, Cina. Kita semua sama. Kita semua Ciptaan Allah, dan Kita semua Penghuni setia Bumi Pertiwi.

Salam Damai

Siapakah saya sebenarnya?

2010. Di tahun ini ada percakapan antara saya dan guru saya, yang hingga kini terkadang masih mengusik pikiran saya. Sebuah pertanyaan jebakan psikologis yang ditujukan kepada orang-orang yang belum punya pendirian. Termasuk saya. Maklum 2010. Eh, 2012 pun masih..

Dialog:
Guru: "Dini, Bila kamu memasuki sebuah hutan rimba, lalu kamu mendengar suara binatang, suara apa yang kamu dengar?"
Saya: "Jaguar, Pak!"
Guru: "Dini, Setelah mendengar suara itu, kamu menelusuri hutan lebih dalam lagi, lebih jauh lagi. Lalu kamu mendengar suara binatang lagi. Suara binatang apa yang kamu dengar?
Saya: "Harimau, Pak!"
Guru: "Hebat. Pertanyaan saya yang terakhir. Setelah kamu mendengar suara-suara itu, kamu menelusuri hutan itu lebih jaul lagi, lebih dalam lagi. Dan kamu mendengar suara binatang lagi, Suara binatang apa yang kamu dengar?"
Saya: "Beruang, Pak!"
Guru: *Tertawa sampai menangis*

Apa maksudnya?
Saya tidak mengerti.
Saya agak tersinggung. Dengan tawanya, saya merasa bahwa jawaban saya tidak berkualitas di matanya.
Saya bertanya-tanya, sampai akhirnya dia menjelaskan.

Guru: "Dini, Anakku sayang anakku malang. Pertanyaan tadi adalah pertanyaan jebakan psikologis. Yang dimana secara tidak langsung bisa mengetahui kepribadianmu. Namun itu abstrak kok, tidak pasti. Namun 90% benar, Hahaha."
"Dini, Pertanyaan pertama kamu jawab Jaguar. Seekor binatang liar nan ganas. Itu artinya adalah, kau ingin orang-orang di sekitar mu melihatmu bagaikan Jaguar. Liar, Berani, Tegas, Ganas atau apalah."
"Dini, Pertanyaan kedua kamu jawab Harimau. Raja tanpa penghormatan/Gelar di hutam rimba. Itu artinya kamu masih ingin orang-orang di sekitar kamu melihat kamu bagaikan Harimau. Raja, Punya kuasa, Hebat, Berani, Apalah itu."
"Dini, di pertanyaan terakhir kamu jawab Beruang. Ini menandakan bahwa, kamu dari luar ingin dianggap/dilihat seperti Jaguar dan Harimau. Padahal...Kamu sebetulnya hanya Beruang. Hahaha"


Saya pun tertawa lepas. Percakapan ini akan saya ingat seumur hidup.
Saya berfikir, mungkin saat itu, saya masih beruang.
Dan beberapa taun setelahnya, saya akan bertransformasi menjadi seekor Jaguar.


Apakah saya berusaha keras demi berubah jadi Jaguar? Tidak.
Mengapa? Karena sebenarnya derajat Jaguar dan Beruang itu sama. Sama-sama Binatang Hebat ciptaan Yang Maha Kuasa.

Dengan menjadi Beruang saja, Sebenarnya saya bangga.
" Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.. Namun ketika sudah sampai pada kemudahan, kadang kita merindukan suasana ketika kita kesulitan" -Ali Abdillah, Ketua BEM FHUI 2012.

Saya berharap suatu hari nanti saya akan merindukan masa ini.
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kawan.

Ada beberapa hal yang terkesan biasa dan memang pantas menjadi "biasa". tidak usah dilebih-lebihkan. karena kelebihan itu sendiri dapat menghilangkan makna biasa. dan mungkin malah bermakna dibawah biasa.


Aku menyendiri di tengah kesendirian.

Aku diselimuti kesepian.

Aku sebut ini kemandirian.


Saya, adalah seorang Siswi yang punya segudang mimpi.

Dalam jangka waktu dekat, mimpi saya yang terbesar adalah menjadi Mahasiswi.

Mahasiswi universitas terbaik di saentro indonesia.

UNIVERSITAS INDONESIA.

Memiliki Jaket Kuning yang sederhana, mencolok, namun penuh kebanggan, adalah impian saya.

Semua itu saya capai dan kejar, hanya untuk membahagiakan orang tua saya.

Bismillah, Hai kamu yang membaca ini, saya mohon doa seikhlas-ikhlasnya, doakan saya, agar mimpi besar saya yang sederhana itu bisa tercapai.

Amin, Ya Allah.


Jika kita melepaskan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita dengan tulus ikhlas, Niscaya suatu hari nanti kita akan mendapatkan balasanya.

Apa balasanya?

Mungkin lebih baik dari yang kita lepaskan waktu itu.
Jangan terlalu banyak berharap, jika diakhiri dengan sakit hati. Namun, jangan berhenti berharap, bila kamu tidak tau apa yang akan terjadi.

Pena dan Kertas

Pena dan kertas, adalah pasangan paling sempurna di dunia ini.

Kertas putih bersih, akan berisi dan ternodai oleh tinta pena.

Tinta pena yang penuh, beragam warna, akan habis karena coretan2nya di Kertas.

Fotografi

Saya tidak suka Fotografi. Saya tidak senang dengan Fotografi.

Tapi saya CINTA Fotografi.
Namun, Secinta-cintanya saya dengan Fotografi, Saya lebih cinta dengan Negri ini.

Setiap melihat Kamera tergeletak, yang ada di benak saya adalah "Benda apa itu? Bagaimana cara menggunakanya? saya tidak mengerti."
Setiap saya mengabadikan suatu momen, yang ada di benak saya adalah "Apa itu? Kok sampah sekali ya hasilnya"

Dari dulu hingga kini, saya masih dalam proses belajar. bahkan mungkin sampai nanti. saya akan terus belajar dan belajar mendalami ilmu maha indah ini.

Menulis

Saya suka Menulis. Entah itu Aforisme, Petikan, Artikel, Cerita. Semuanya rata-rata tak bermakna, atau malahan bermakna terlalu dalam. Saya menulis dengan hati. Spontanitas. Dan berharap dengan spontanitas itu tulisan saya jadi berkualitas. Saya tekankan, Namanya juga Harapan.