Sabtu, 23 Juni 2012

Discover Eastern Australia (Tangalooma++) (Part 1)

Bulan Ramadhan telah berlalu. Bulan suci yang telah ditutup dengan hari yang fitri. 
Momen penutup ini biasa disebut Lebaran. Yang dimana mayoritas keluarga di Indonesia menjalankan kebiasaanya yakni pulang ke kampung halaman, berjumpa dengan sanak keluarga tercinta. 


Namun tidak dengan keluarga saya.
Biasanya, Kami sekeluarga melakukan tradisi lebaran, Yakni mengelilingi Pulau Jawa. Karena memang, Orang tua saya berasal dari Jawa.
Namun, Lebaran 2011 ini kami melakukan sesuatu yang berbeda. Kami sekeluarga memutuskan untuk traveling.
Kemana?
Ke Negri Kangguru. Australia



Day 01, 31 Agustus 2011
Paginya, Kami melakukan Shalat Ied di puncak, dan bersilaturahmi bersama sanak keluarga besar. Kami tak bisa lama-lama, karena harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Bandara. Flight ke Australia menggunakan Pesawat Garuda ini akan berangkat pada pukul 23.00. Kami memang disarankan untuk menghabiskan malam di Pesawat. 



Day 02, 1 September 2011
Alhamdulillah Pukul 08.00 waktu bagian Australia, Kami sampai di Melbourne Airport. Dan disambut dengan angin yang dinginya menusuk tulang..




Sesampainya kami di Bandara, Rombongan kami langsung diajak untuk menikmati suasana ibukota, tepatnya di negara bagian Victoria. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Queen Victoria Market. Sebuah pasar yang besar dan terkenal di daerah Victoria. 


Queen Victoria Market

Pasar ini tidak terlalu ramai sebagaimana pasar yang kita temui di Indonesia (Yaiyalah). Namun pasar ini cukup lengkap. Mulai dari sayur-sayuran, daging, sampai buah-buahan semua lengkap dengan harga cukup terjangkau. Selain itu pasar ini juga mejual berbagai macam Hiasan dinding, Karpet, Pakaian sampai sepatu Boots!












Hap! Seselesainya kami berbelanja, destinasi kami selanjutnya adalah Parliament Building. Ya gedung Parlemen di Victoria. Gedungnya megah, Yaa mungkin kalau di jakarta, tidak jauh bentuknya dengan Gedung Mahkamah Konstitusi yang megah itu.

Parliament Building 

Megah bukan? Namun ada yang lebih menakjubkan lagi. Ternyata di depan gedung ini, terdapat jalur trem! Dan kebetulan saja Tremnya sedang lewat.

Trem
Lanjutkan Perjalanan!
Destinasi kami selanjutnya adalah Fitzroy Garden. Sebuah taman indah yang terletak di tengah kota. Di taman ini juga terdapat Taman Bunga. 

Dinan, At Fitzroy Garden

Dinan & Dini 

Setelah Fitzroy Garden, Kami bergegas untuk pergi ke ST. Patrick Cathedral. Sebuah gereja indah di tengah kota.




Setelah mengunjungi beberapa tempat di Melbourne, kami melakukan City Tour. Berkeliling menikmati suasana kota sembari berfoto ria! 



Mas Dinan, Bapak dan Mama 

Salah satu museum di Melbourne



Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.00. Sampailah kita di Destinasi Terakhir. Yakni Eureka Tower. Gedung tertinggi di Melbourne. Memang di Melbourne termasuk kota besar, namun tak sebesar Sydney. Mayoritas kota ini isinya Mahasiswa. Berbeda dengan Sydney, Yang mayoritas berisi orang kerja. Jadi intinya, Gedung-gedung Melbourne tak sebesar di Sydney. 





Selesai lah perjalanan hari pertama di Melbourne. Perjalanan ini masih panjang, dan akan saya pos kan di lain waktu! Terimakasih :)



Kamis, 19 April 2012

Betapa sedihnya melihat problematika bangsa ini. Tak kunjung habis. Negara ini menjadi negri seribu konflik. Belum selesai satu konflik, konflik lain bermunculan. Terus menerus. Tanpa istirahat.

Sampai hari ini 20 april 2012, beragam kasus telah mengisi hari-hari negri ini. Kalau kita merekap 1 bulan kebelakang, isu yang terbesar adalah isu BBM. Isu yang diperkirakan dapat menimbulkan suatu kudeta. Setelah itu muncul masalah dari koalisi setgab, PKS. Belum selesai masalah PKS, kembali muncul masalah baru, seperti sidak BNN yang membawa nama Wamenkumham Denny Indrayana, yang dituduh menampar sipir. Kasus berdatangan terus menerus tanpa hentu hingga detik ini saya bernafas.

Di antara sekian banyak kasus, tidak ada yang melebihi hebohnya kasus korupsi. Kita sebagai warga negara indonesia tentunya dibuat geram dan marah. Bayangkan, Indonesia diberi label sebagai negara terkaya (SDA) namun terkorup (Uang) di asia tenggara. Kita sebagai warga negara indonesia tentunya tidak hanya malu dengan predikat itu. Kita juga sedih melihat kondisi bangsa kita yang sangat memprihatinkan. Semua ini penyebab utamanya ya hanya itu, Korupsi.

Uang hasil jerih payah rakyat, yang ditujukan juga untuk kesejahteraan rakyat, dimasukan ke dalam kantong mereka. Orang orang besar yang mengaku membela hak rakyatnya. Yaa mungkin semua orang memiliki cara masing-masing dalam bekerja. Dan menyejahterakan rakyat dengan mengambil uang rakyat adalah cara mereka dalam bekerja. Menyedihkan bukan?

Hapus praktik uang kotor itu di negri ini. Tingkatkan kinerjamu, wahai wakil rakyat yang maha agung. Berkontribusilah dengan ikhlas untuk kami, yang menderita karenamu.

Kami, merupakan rakyat yang hidup ditemani dengan kesengsaraan dari berbagai aspek. Namun kami, rakyat dalah yang tak henti-hentinya berdoa, menunggu datangnya sebuah perubahan untuk negri ini.

Dibalik semua demonstrasi yang ada di negri ini tersirat sebuah pesan dan harapan. Kerusuhan yang terjadi sebenarnya hanya akal akal licik dari sang provokator.

Perubahan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Ya, bergerak lah dan buatlah perubahan! Dimulai dari kamu! Ya, kamu yang membaca tulisan ini. Terutama kamu, yang masih berstatus anak muda. Mari kita duduk di bangku lembaga pendidikan, belajar dan belajar. Carilah ilmu. Buatlah dirimu yang tidak tahu menjadi tau, dan carilah apa yang ingin kau tau dengan cara belajar dan bertanya. Cetak prestasi jangan hanya diatas kertas, namun buktikan prestasi dalam dunia nyata.

Jangan menjadi pemuda yang hanya bisa menghina dan mengkritik tanpa tujuan tanpa berniat untuk ikut memperbaiki keadaan. Bila memang negri ini sudah ada di kondisi yang memprihatinkan, sampaikan aspirasimu, bergeraklah, dan buatlah perubahan untuk negri ini!

Ayo, aku, kamu, kita, bergeraklah! Untuk bangsa yang lebih baik :)

Dibalik penghinaan kita terhadap mereka, orang-orang besar yang melakukan kesalahan, timbulah suatu pertanyaan "Apakah kita bisa menjadi seperti mereka?"

Bukan menjadi seperti "mereka" yang melakukan kesalahan, tapi menjadi seperti "mereka", pribadi yang sebelum melakukan kesalahan.

Bagaimanapun juga, mereka orang hebat. Memulai sesuatu mulai dari nol. Memiliki masa lalu yang berat. Yang dulu hidup beralaskan lantai semen, kini bisa beralaskan marmer.

Berpendapat adalah hak setiap manusia. Namun alangkah baiknya jika pendapat kita, disampaikan dalam bentuk kritik bukan Hinaan.

Karena Sepahit-pahitnya kritik, ada harapan dan doa yang bersifat membangun.

Hidup Rakyat Indonesia

Sabtu, 10 Maret 2012

Aku curiga, bahwa ia dilahirkan hanya untuk menguji kesabaranku.

Sosoknya begitu sempurna. membuatku haru selalu berfikir dua kali dalam melakukan sesuatu. apapun itu.
Memang, ini kebiasaan buruk yang tuhan pun tidak pernah menyukainya.
aku sebenarnya bukan pribadi yang senang membanding-bandingkan diriku dengan yang lainya. Karena, aku pikir semua manusia itu sama derajatnya. dan semua manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan.

Namun, Prinsipku goyah karenanya.
Semenjak mengenalnya atau lebih tepatnya, Semenjak ia datang mengusik kehidupanku, aku tidak bisa berpegang teguh dengan janji manisku itu.
Aku seringkali membandingkan diriku dengan dirinya. aku merasa bahwa dia adalah makhluk yang sempurna. sedangkan aku bukan apa-apa.

Dimulai dari fisik, kecerdasan, kemampuan atau keahlian lain, tingkah laku, sifat bahkan sampai materi, semua aku bandingakan. aku dan dia bagai langit dan bumi. itu yang aku kira.

Apakah aku membencinya? Tidak.
Apakah dia pernah mengganggu kehidupanku? Ya, Pernah
Apakah aku memaafkanya? Ya, Tentu
Apakah aku merasa nyaman? Nah, Ini yang akan selalu menjadi pertanyaan.

Namun, dibalik ini semua, aku sangat berterimakasih padanya. berkat dia, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. aku bisa mengendalikan diriku. aku belajar sabar dan mengerti perasaan, dari dia. banyak hal yang telah aku pelajari darinya sampai-sampai aku tak bisa menyebutkan semuanya.

Intinya, aku jadi mengerti hidup. Yaa, secara harafiah aku belum tau apa arti kehidupan yang sebenarnya. ibarat gelas, gelas itu masih kosong. namun berkat dia dan segala kesempurnaanya yang terus menguji kesabaranku, kini gelas itu terisi. mungkin tidak penuh atau malah tidak sampai setengan. tapi aku tetap berterimakasih. yang penting, kini gelas itu terisi.

Kapan gelas itu akan penuh? Tentu aku tak tahu
Yang pasti, masih banyak ujian yang menungguku diluar sana.
Jalanku masih panjang.
Dan harapan untuk mengisi penuh gelas itu dengan pelajaran kehidupan, masih ada.

Jumat, 09 Maret 2012

Iklan Diri 60 Detik

Saya, Dini nur larasati. Berumur 16 tahun. Berstatus seorang pelajar. Bermimpi menjadi seorang jurnalis. Dan berkeinginan untuk masuk Hukum UI. Menyimpang bukan? Mungkin itu menurut anda, tapi tidak menurut saya.

Saya merupakan seorang yang membenci sistem hukum di Indonesia. dan dengan dasar kebencian itulah saya jadi mengagumi ilmunya. Saya ingin mendalammi hukum Indonesia lebih jauh dan lebih luas lagi. Karena saya yakin, Hukum Indonesia tidak sebobrok kenampakanya.

Untuk masuk ke Hukum, terutama UI (Yang notabene merupakan universitas terbaik di saentro negri), saya memiliki 4 Kunci utama dalam mewujudkanya. Yakni, Niat, Kerja Keras, Berdoa dan Pasrah menunggu takdir datang menjemput. Saya merupakan pribadi yang ambisius, pekerja keras dan tidak gampang menyerah. dan saya yakin tahun ini saya sudah memiliki jaket kuning bermakara merah. dan 5 taun lagi saya sudah menjadi jurnalis yang bekerja di media cetak kebanggan indonesia sejak tahun 1965. Koran Kompas.

Itu merupakan iklan diriku yang aku buat dalam waktu 60 detik. ini merupakan tugas konseling yang diberikan oleh pembimbing sekaligus motivator kebangganku, Pak Mutiha. Aku harap iklan itu buka hanya tulisan belaka. aku ingin setiap kata dalam iklan itu menjadi nyata, suatu saat nanti.


Ini merupakan lanjutan atau mungkin tanggapanku mengenai tulisanku sendiri. Beberapa saat setelah menulis opini yang berjudul "Apa salah mereka yang Oriental?" di Kompasiana, banyak pihak yang menanggapi, memuji bahkan mengkritik tulisanku itu.

Alhamdulillah, tulisanku dibaca sekitar 630 orang hingga hari ini. Dan tulisanku dikomentari oleh 6 kompasiana. 3 diantaranya memuji opini yang kubuat. mereka mengatakan bahwa mereka yang menghina cina adalah mereka yang tak berpendidikan dan tak punya otak. dan 3 orang itu keturunan tionghoa, pantas saja mereka mendukungku :)

Sisanya? 3 orang pribumi yang datang mengkritik tulisanku. intinya sama, mereka merasakan sendiri perlakuan cina yang semena-mena terhadap pribumi. Cina menyebut pribumi dengan sebutan "Orang lu". jadi sebaiknya tidak hanya "Apa salah mereka yang oriental?" namun harus dibuat juga "Apa salah mereka yang Pribumi?"

Membaca semua tanggapan itu, aku hanya bisa tersenyum. Bangga. Aku tidak merasa terpojokan setelah dikritik. Aku malah terpacu untuk menulis dengan lebih baik lagi.

Terimakasih Semua,Tunggu opiniku yang selanjutnya :-)

Kamis, 01 Maret 2012

"Kita ini generasi penerus bangsa!"

Berapa kali aku mendengar semboyan itu. Berapa kali pula aku mendalami maknanya.
aku tak tahu.

Kami, tidak hidup di zaman belanda, jepang, orde lama, atau pun orde baru.
Kami, anak-anak 90-an, berada di zaman reformasi.

Kehidupan kami modern, kesenjangan sungguh ketara. kehidupan kami ini aneh, tapi nyata. laten, itu menurutku.

ingin rasanya hidup di masa itu, merasakan bagaimana krisis yang dialami indonesia. bukan berarti kini indonesia tak digandrungi krisis. namun problematika dulu dan kini beda, itu menurutku.

Aku tak henti hentinya bertanya kepada diriku sendiri, apa yang akan terjadi di masa depan nanti? masa dimana generasi kita sudah berdiri menjadi pemimpin bangsa. tak terbayang olehku bila teman sebangku ku menjadi presiden. apa yang akan terjadi?

Aku tidak bisa hanya diam dan berharap. aku juga bisa bertindak. perlahan, namun pasti.
cita-citaku akan kugapai, dan akan kuwarnai indonesia dengan pengabdian dan kontribusiku untuk negri ini.

Salam, dari calon jurnalis masa depan

Kamis, 16 Februari 2012

mungkin, ada kata lelah dalam bekerja. namun, tidak ada kata lelah dalam mengabdi dan berkontribusi.
Kami semua bintang kejora.
Kami semua sama.

Tapi sinar kami berbeda-beda.

Disini kami, 19 anak terpilih, berdoa dengan penuh harap.
Agar diterima di bumi ganesha.
atau mendapat jaminan memiliki jaket kuning.

dari 19 anak itu, aku pasrah.
dari 19 anak itu, aku peringkat terakhir.
bukan merendah, namun ini kenyataan.

Mungkin mereka yakin seraya berharap.
tapi aku, hanya bisa tersenyum seraya berharap.
menunggu keajaiban itu menjemputku, tidak ada yang tidak mungkin bukan?
namun bila mimpi itu tak segera menjemputku, aku akan tetap menegakan kepala, dan tersenyum.
karena aku yakin, mimpi aku akan segera menjemputku, suatu saat nanti.

dari 19 anak itu ada 3 anak yang aku harap bisa memiliki jaket kuning.
tolong Ya Allah,
mereka adalah bintang kejora, yang sinarnya tak kalah indanhnya dengan sinar rembulan.

Biar aku saja yang berjuang dalam kerasnya ujian tertulis.
tolong loloskan mereka bertiga ya allah.

tak terbayang bilamana harapanku menjadi nyata, mungkin aku orang pertama yang akan menangis bahagia mendengar kabar baik itu.

Loloskan mereka di jalur ini ya allah.
bila ada keajaiban, loloskan aku juga ya allah.
aku tidak pesimis. namun, aku tau diri.
dan tidak akan berhenti berharap.



Aku membisu dalam kemarahan.
Memandang dengan pandangan arogan ke sekelilingku.

Aku termenung dalam kesedihan.
Memandang dengan mata sayu ke sekelilingku.

Aku tertawa dalam kebahagiaan.
Memandang dengan mata berbinar ke sekelilingku.

Aku tak berkutik dalam kepasrahan.
Aku tak bisa memandang dengan pandangan arogan, mata sayu apalagi mata berbinar.
Aku hanya bisa memandang penuh harap ke sajadah itu,
Aku hanya bisa memeluk erat kitab itu,
dan aku hanya bisa menunggu takdirmu dalam diam dan dalam kesunyian.

Ya Allah, aku mohon petunjukmu Ya Allah.
Tolong aku Ya Allah.
Tolong..



Jangan pernah memandang orang dengan sebelah mata. Malahan, dengan dua mata saja sebenarnya juga tidak cukup. Sesungguhnya perspektif itu lebih luas dari yang kau kira.

Jumat, 10 Februari 2012

Aku dan dirinya termenung. Memandang manisnya pelangi yang tersenyum malu di kala senja. Hening. Tak muncul sepatah katapun dari mulutku atau pun mulutnya.

Aku berdiri. Bersama dia. Dia mengikuti gerak gerik langkahku. Dia hitam kelam. Namun setia. Wujudnya membesar di kala senja, di kala matahari menyinariku dari barat.

Kami serupa, namun tak sama. Dia ada karena diriku. Tapi tidak sebaliknya.

Siapa dia? Apakah dia hantu?
Siapa dia? Apakah dia hanya imajinasiku?
Siapa dia? Siapa dia?

Dia adalah refleksi diriku yang berwarna hitam kelam, yang bernama, Bayangan.

Apa aku gila? Berteman dengan refleksi hitam dari diriku sendiri.
Apa aku gila? Berbicara dan tersenyum terhadap zat hitam tak bernyawa
Apa aku gila? Mengagumi sosok bisu yang hanya bisa mengikuti gerak gerik raga ini.

Dewasa ini, siapa yang ingin memuji bayangan? Seperti tidak ada hal lain saja yang patut untuk dikagumi. Dasar gila.

Namun, menurutku, aku tidak gila.
Aku hanya mengangumi apa yang biasa tidak dikagumi.


Terimakasih, Kawan. Terimakasih, Bayangan. Yang telah menjadi teman khayalanku selama ini. Yang setia menemaniku dikala kesendirian dan kesepian menyapa. Walaupun dirimu bisu, tapi aku menghargai kehadiranmu.

Terimakasih, Tuhan.
Sahabat.

Tuhan, mengapa engkau ciptakan mereka tuhan?

Mereka terlalu sempurna untuk dilahirkan ke dunia ini.
Mereka punya kemampuan yang luar biasa.
Mereka mampu menghapus air mata ini tanpa selembar kertas tisu pun
Mereka mampu merubah garis lurus di bibir ini, menjadi lengkungan manis yang tak kalah manisnya dengan lengkungan pelangi.

Mereka Sungguh Hebat
Dan, Engkau sungguh Mulia Ya Allah.

Terimakasih, telah melahirkan mereka di dunia ini. Ketulusan, kebaikan, dan kebersihan hati mereka membuat ku bertanya-tanya.

Wahai kawan, Kamu benar manusia? Bukan Malaikat?

Hanya senyuman ikhlas mereka yang bisa menjawab pertanyaan itu.

Sekali lagi, Terimakasih Ya Allah.

Rabu, 08 Februari 2012

C.I.N.T.A

Saya agak setengah hati menulis tentang ini. Mungkin anda sekalian berfikir, kalau setengah hati, buat apa ditulis? Salahkan jari saya. Dia bergerak tanpa dikomando.

Hm, Hebat sekali ya kata yang satu ini. Sederhana memberi makna. Makna yang tentu tidak semua orang memiliki penafsiran yang sama.

Berjuta-juta orang (tanpa menggunakan majas hiperbola) bahagia karenanya.
Berjuta-juta orang (masih tidak menggunakan majas hiperbola) kecewa karenanya.

Saya termasuk irisan keduanya. Saya pernah bahagia karena cinta. Saya juga pernah kecewa karena cinta.

Bila kita lihat dari perspektif bahagia, pasti cinta dijunjung tinggi keagunganya.
Namun,
Bila kita lihat dari perspektif kecewa, pasti cinta diinjak-injak martabatnya.

Kasihan ya cinta.


Dasar Cina!

Dasar Cina!

Kalimat itu tidak asing lagi di telinga Pribumi.

Kebencian masa penjajahan, yang dimana warga tionghoa terutama pedagang, derajatnya lebih tinggi dibanding orang pribumi. Namun itu dulu. Sekarang semua sama. Kita telah merdeka. Namun karena kebencian masa lalu itulah, muncul perlakuan Diskriminasi. Dari warga negara indonesia pribumi terhadap mereka yang keturunan Tionghoa. Zaman berganti, Kebencian menjadi-jadi.

Buat apa hal seperti ini di lanjutkan? Mana asas kita yang dijunjung tinggi itu? "BHINEKA TUNGGAL IKA". Berbeda-beda namun tetap satu. Ngakunya mengayomi perbedaan. Kenyataanya mempeributkan perbedaaan.

Mata sipit, belo, kulit putih, kulit hitam, rambut ikal, rambut lurus, segala sesuatu itu mutlah ciptaan yang maha kuasa. Bermiliyar orang di muka bumi ini, tidak memiliki rupa yang sama. Sekalipun kembar, pasti ada detail kecil yang membedakan. Subhanallah.

Begitupula Etnis. Etnis bukanlah hal yang bisa dipesan. Disinilah takdir berbicara. Jika orang itu terlahir cina, tidak mungkin ia tumbuh dewasa sebagai orang bule.

Hargailah perbedaan. Perbedaan itu Rahmat. Perbedaan itu Indah. Hidup jika tidak ada Perbedaan akan terasa monoton sekali. Manfaatkanlah perbedaan itu untuk hal yang positif, jangan jadikan perbedaan menjadi ajang untuk saling menjatuhkan.

Pribumi, Cina. Kita semua sama. Kita semua Ciptaan Allah, dan Kita semua Penghuni setia Bumi Pertiwi.

Salam Damai

Siapakah saya sebenarnya?

2010. Di tahun ini ada percakapan antara saya dan guru saya, yang hingga kini terkadang masih mengusik pikiran saya. Sebuah pertanyaan jebakan psikologis yang ditujukan kepada orang-orang yang belum punya pendirian. Termasuk saya. Maklum 2010. Eh, 2012 pun masih..

Dialog:
Guru: "Dini, Bila kamu memasuki sebuah hutan rimba, lalu kamu mendengar suara binatang, suara apa yang kamu dengar?"
Saya: "Jaguar, Pak!"
Guru: "Dini, Setelah mendengar suara itu, kamu menelusuri hutan lebih dalam lagi, lebih jauh lagi. Lalu kamu mendengar suara binatang lagi. Suara binatang apa yang kamu dengar?
Saya: "Harimau, Pak!"
Guru: "Hebat. Pertanyaan saya yang terakhir. Setelah kamu mendengar suara-suara itu, kamu menelusuri hutan itu lebih jaul lagi, lebih dalam lagi. Dan kamu mendengar suara binatang lagi, Suara binatang apa yang kamu dengar?"
Saya: "Beruang, Pak!"
Guru: *Tertawa sampai menangis*

Apa maksudnya?
Saya tidak mengerti.
Saya agak tersinggung. Dengan tawanya, saya merasa bahwa jawaban saya tidak berkualitas di matanya.
Saya bertanya-tanya, sampai akhirnya dia menjelaskan.

Guru: "Dini, Anakku sayang anakku malang. Pertanyaan tadi adalah pertanyaan jebakan psikologis. Yang dimana secara tidak langsung bisa mengetahui kepribadianmu. Namun itu abstrak kok, tidak pasti. Namun 90% benar, Hahaha."
"Dini, Pertanyaan pertama kamu jawab Jaguar. Seekor binatang liar nan ganas. Itu artinya adalah, kau ingin orang-orang di sekitar mu melihatmu bagaikan Jaguar. Liar, Berani, Tegas, Ganas atau apalah."
"Dini, Pertanyaan kedua kamu jawab Harimau. Raja tanpa penghormatan/Gelar di hutam rimba. Itu artinya kamu masih ingin orang-orang di sekitar kamu melihat kamu bagaikan Harimau. Raja, Punya kuasa, Hebat, Berani, Apalah itu."
"Dini, di pertanyaan terakhir kamu jawab Beruang. Ini menandakan bahwa, kamu dari luar ingin dianggap/dilihat seperti Jaguar dan Harimau. Padahal...Kamu sebetulnya hanya Beruang. Hahaha"


Saya pun tertawa lepas. Percakapan ini akan saya ingat seumur hidup.
Saya berfikir, mungkin saat itu, saya masih beruang.
Dan beberapa taun setelahnya, saya akan bertransformasi menjadi seekor Jaguar.


Apakah saya berusaha keras demi berubah jadi Jaguar? Tidak.
Mengapa? Karena sebenarnya derajat Jaguar dan Beruang itu sama. Sama-sama Binatang Hebat ciptaan Yang Maha Kuasa.

Dengan menjadi Beruang saja, Sebenarnya saya bangga.
" Setelah kesulitan, pasti ada kemudahan.. Namun ketika sudah sampai pada kemudahan, kadang kita merindukan suasana ketika kita kesulitan" -Ali Abdillah, Ketua BEM FHUI 2012.

Saya berharap suatu hari nanti saya akan merindukan masa ini.
Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, kawan.

Ada beberapa hal yang terkesan biasa dan memang pantas menjadi "biasa". tidak usah dilebih-lebihkan. karena kelebihan itu sendiri dapat menghilangkan makna biasa. dan mungkin malah bermakna dibawah biasa.


Aku menyendiri di tengah kesendirian.

Aku diselimuti kesepian.

Aku sebut ini kemandirian.


Saya, adalah seorang Siswi yang punya segudang mimpi.

Dalam jangka waktu dekat, mimpi saya yang terbesar adalah menjadi Mahasiswi.

Mahasiswi universitas terbaik di saentro indonesia.

UNIVERSITAS INDONESIA.

Memiliki Jaket Kuning yang sederhana, mencolok, namun penuh kebanggan, adalah impian saya.

Semua itu saya capai dan kejar, hanya untuk membahagiakan orang tua saya.

Bismillah, Hai kamu yang membaca ini, saya mohon doa seikhlas-ikhlasnya, doakan saya, agar mimpi besar saya yang sederhana itu bisa tercapai.

Amin, Ya Allah.


Jika kita melepaskan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup kita dengan tulus ikhlas, Niscaya suatu hari nanti kita akan mendapatkan balasanya.

Apa balasanya?

Mungkin lebih baik dari yang kita lepaskan waktu itu.
Jangan terlalu banyak berharap, jika diakhiri dengan sakit hati. Namun, jangan berhenti berharap, bila kamu tidak tau apa yang akan terjadi.

Pena dan Kertas

Pena dan kertas, adalah pasangan paling sempurna di dunia ini.

Kertas putih bersih, akan berisi dan ternodai oleh tinta pena.

Tinta pena yang penuh, beragam warna, akan habis karena coretan2nya di Kertas.

Fotografi

Saya tidak suka Fotografi. Saya tidak senang dengan Fotografi.

Tapi saya CINTA Fotografi.
Namun, Secinta-cintanya saya dengan Fotografi, Saya lebih cinta dengan Negri ini.

Setiap melihat Kamera tergeletak, yang ada di benak saya adalah "Benda apa itu? Bagaimana cara menggunakanya? saya tidak mengerti."
Setiap saya mengabadikan suatu momen, yang ada di benak saya adalah "Apa itu? Kok sampah sekali ya hasilnya"

Dari dulu hingga kini, saya masih dalam proses belajar. bahkan mungkin sampai nanti. saya akan terus belajar dan belajar mendalami ilmu maha indah ini.

Menulis

Saya suka Menulis. Entah itu Aforisme, Petikan, Artikel, Cerita. Semuanya rata-rata tak bermakna, atau malahan bermakna terlalu dalam. Saya menulis dengan hati. Spontanitas. Dan berharap dengan spontanitas itu tulisan saya jadi berkualitas. Saya tekankan, Namanya juga Harapan.