Sabtu, 23 Juni 2012

Discover Eastern Australia (Tangalooma++) (Part 1)

Bulan Ramadhan telah berlalu. Bulan suci yang telah ditutup dengan hari yang fitri. 
Momen penutup ini biasa disebut Lebaran. Yang dimana mayoritas keluarga di Indonesia menjalankan kebiasaanya yakni pulang ke kampung halaman, berjumpa dengan sanak keluarga tercinta. 


Namun tidak dengan keluarga saya.
Biasanya, Kami sekeluarga melakukan tradisi lebaran, Yakni mengelilingi Pulau Jawa. Karena memang, Orang tua saya berasal dari Jawa.
Namun, Lebaran 2011 ini kami melakukan sesuatu yang berbeda. Kami sekeluarga memutuskan untuk traveling.
Kemana?
Ke Negri Kangguru. Australia



Day 01, 31 Agustus 2011
Paginya, Kami melakukan Shalat Ied di puncak, dan bersilaturahmi bersama sanak keluarga besar. Kami tak bisa lama-lama, karena harus segera mempersiapkan diri untuk pergi ke Bandara. Flight ke Australia menggunakan Pesawat Garuda ini akan berangkat pada pukul 23.00. Kami memang disarankan untuk menghabiskan malam di Pesawat. 



Day 02, 1 September 2011
Alhamdulillah Pukul 08.00 waktu bagian Australia, Kami sampai di Melbourne Airport. Dan disambut dengan angin yang dinginya menusuk tulang..




Sesampainya kami di Bandara, Rombongan kami langsung diajak untuk menikmati suasana ibukota, tepatnya di negara bagian Victoria. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Queen Victoria Market. Sebuah pasar yang besar dan terkenal di daerah Victoria. 


Queen Victoria Market

Pasar ini tidak terlalu ramai sebagaimana pasar yang kita temui di Indonesia (Yaiyalah). Namun pasar ini cukup lengkap. Mulai dari sayur-sayuran, daging, sampai buah-buahan semua lengkap dengan harga cukup terjangkau. Selain itu pasar ini juga mejual berbagai macam Hiasan dinding, Karpet, Pakaian sampai sepatu Boots!












Hap! Seselesainya kami berbelanja, destinasi kami selanjutnya adalah Parliament Building. Ya gedung Parlemen di Victoria. Gedungnya megah, Yaa mungkin kalau di jakarta, tidak jauh bentuknya dengan Gedung Mahkamah Konstitusi yang megah itu.

Parliament Building 

Megah bukan? Namun ada yang lebih menakjubkan lagi. Ternyata di depan gedung ini, terdapat jalur trem! Dan kebetulan saja Tremnya sedang lewat.

Trem
Lanjutkan Perjalanan!
Destinasi kami selanjutnya adalah Fitzroy Garden. Sebuah taman indah yang terletak di tengah kota. Di taman ini juga terdapat Taman Bunga. 

Dinan, At Fitzroy Garden

Dinan & Dini 

Setelah Fitzroy Garden, Kami bergegas untuk pergi ke ST. Patrick Cathedral. Sebuah gereja indah di tengah kota.




Setelah mengunjungi beberapa tempat di Melbourne, kami melakukan City Tour. Berkeliling menikmati suasana kota sembari berfoto ria! 



Mas Dinan, Bapak dan Mama 

Salah satu museum di Melbourne



Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 15.00. Sampailah kita di Destinasi Terakhir. Yakni Eureka Tower. Gedung tertinggi di Melbourne. Memang di Melbourne termasuk kota besar, namun tak sebesar Sydney. Mayoritas kota ini isinya Mahasiswa. Berbeda dengan Sydney, Yang mayoritas berisi orang kerja. Jadi intinya, Gedung-gedung Melbourne tak sebesar di Sydney. 





Selesai lah perjalanan hari pertama di Melbourne. Perjalanan ini masih panjang, dan akan saya pos kan di lain waktu! Terimakasih :)



Kamis, 19 April 2012

Betapa sedihnya melihat problematika bangsa ini. Tak kunjung habis. Negara ini menjadi negri seribu konflik. Belum selesai satu konflik, konflik lain bermunculan. Terus menerus. Tanpa istirahat.

Sampai hari ini 20 april 2012, beragam kasus telah mengisi hari-hari negri ini. Kalau kita merekap 1 bulan kebelakang, isu yang terbesar adalah isu BBM. Isu yang diperkirakan dapat menimbulkan suatu kudeta. Setelah itu muncul masalah dari koalisi setgab, PKS. Belum selesai masalah PKS, kembali muncul masalah baru, seperti sidak BNN yang membawa nama Wamenkumham Denny Indrayana, yang dituduh menampar sipir. Kasus berdatangan terus menerus tanpa hentu hingga detik ini saya bernafas.

Di antara sekian banyak kasus, tidak ada yang melebihi hebohnya kasus korupsi. Kita sebagai warga negara indonesia tentunya dibuat geram dan marah. Bayangkan, Indonesia diberi label sebagai negara terkaya (SDA) namun terkorup (Uang) di asia tenggara. Kita sebagai warga negara indonesia tentunya tidak hanya malu dengan predikat itu. Kita juga sedih melihat kondisi bangsa kita yang sangat memprihatinkan. Semua ini penyebab utamanya ya hanya itu, Korupsi.

Uang hasil jerih payah rakyat, yang ditujukan juga untuk kesejahteraan rakyat, dimasukan ke dalam kantong mereka. Orang orang besar yang mengaku membela hak rakyatnya. Yaa mungkin semua orang memiliki cara masing-masing dalam bekerja. Dan menyejahterakan rakyat dengan mengambil uang rakyat adalah cara mereka dalam bekerja. Menyedihkan bukan?

Hapus praktik uang kotor itu di negri ini. Tingkatkan kinerjamu, wahai wakil rakyat yang maha agung. Berkontribusilah dengan ikhlas untuk kami, yang menderita karenamu.

Kami, merupakan rakyat yang hidup ditemani dengan kesengsaraan dari berbagai aspek. Namun kami, rakyat dalah yang tak henti-hentinya berdoa, menunggu datangnya sebuah perubahan untuk negri ini.

Dibalik semua demonstrasi yang ada di negri ini tersirat sebuah pesan dan harapan. Kerusuhan yang terjadi sebenarnya hanya akal akal licik dari sang provokator.

Perubahan dapat dimulai dari hal-hal kecil. Ya, bergerak lah dan buatlah perubahan! Dimulai dari kamu! Ya, kamu yang membaca tulisan ini. Terutama kamu, yang masih berstatus anak muda. Mari kita duduk di bangku lembaga pendidikan, belajar dan belajar. Carilah ilmu. Buatlah dirimu yang tidak tahu menjadi tau, dan carilah apa yang ingin kau tau dengan cara belajar dan bertanya. Cetak prestasi jangan hanya diatas kertas, namun buktikan prestasi dalam dunia nyata.

Jangan menjadi pemuda yang hanya bisa menghina dan mengkritik tanpa tujuan tanpa berniat untuk ikut memperbaiki keadaan. Bila memang negri ini sudah ada di kondisi yang memprihatinkan, sampaikan aspirasimu, bergeraklah, dan buatlah perubahan untuk negri ini!

Ayo, aku, kamu, kita, bergeraklah! Untuk bangsa yang lebih baik :)

Dibalik penghinaan kita terhadap mereka, orang-orang besar yang melakukan kesalahan, timbulah suatu pertanyaan "Apakah kita bisa menjadi seperti mereka?"

Bukan menjadi seperti "mereka" yang melakukan kesalahan, tapi menjadi seperti "mereka", pribadi yang sebelum melakukan kesalahan.

Bagaimanapun juga, mereka orang hebat. Memulai sesuatu mulai dari nol. Memiliki masa lalu yang berat. Yang dulu hidup beralaskan lantai semen, kini bisa beralaskan marmer.

Berpendapat adalah hak setiap manusia. Namun alangkah baiknya jika pendapat kita, disampaikan dalam bentuk kritik bukan Hinaan.

Karena Sepahit-pahitnya kritik, ada harapan dan doa yang bersifat membangun.

Hidup Rakyat Indonesia

Sabtu, 10 Maret 2012

Aku curiga, bahwa ia dilahirkan hanya untuk menguji kesabaranku.

Sosoknya begitu sempurna. membuatku haru selalu berfikir dua kali dalam melakukan sesuatu. apapun itu.
Memang, ini kebiasaan buruk yang tuhan pun tidak pernah menyukainya.
aku sebenarnya bukan pribadi yang senang membanding-bandingkan diriku dengan yang lainya. Karena, aku pikir semua manusia itu sama derajatnya. dan semua manusia pasti punya kelebihan dan kekurangan.

Namun, Prinsipku goyah karenanya.
Semenjak mengenalnya atau lebih tepatnya, Semenjak ia datang mengusik kehidupanku, aku tidak bisa berpegang teguh dengan janji manisku itu.
Aku seringkali membandingkan diriku dengan dirinya. aku merasa bahwa dia adalah makhluk yang sempurna. sedangkan aku bukan apa-apa.

Dimulai dari fisik, kecerdasan, kemampuan atau keahlian lain, tingkah laku, sifat bahkan sampai materi, semua aku bandingakan. aku dan dia bagai langit dan bumi. itu yang aku kira.

Apakah aku membencinya? Tidak.
Apakah dia pernah mengganggu kehidupanku? Ya, Pernah
Apakah aku memaafkanya? Ya, Tentu
Apakah aku merasa nyaman? Nah, Ini yang akan selalu menjadi pertanyaan.

Namun, dibalik ini semua, aku sangat berterimakasih padanya. berkat dia, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. aku bisa mengendalikan diriku. aku belajar sabar dan mengerti perasaan, dari dia. banyak hal yang telah aku pelajari darinya sampai-sampai aku tak bisa menyebutkan semuanya.

Intinya, aku jadi mengerti hidup. Yaa, secara harafiah aku belum tau apa arti kehidupan yang sebenarnya. ibarat gelas, gelas itu masih kosong. namun berkat dia dan segala kesempurnaanya yang terus menguji kesabaranku, kini gelas itu terisi. mungkin tidak penuh atau malah tidak sampai setengan. tapi aku tetap berterimakasih. yang penting, kini gelas itu terisi.

Kapan gelas itu akan penuh? Tentu aku tak tahu
Yang pasti, masih banyak ujian yang menungguku diluar sana.
Jalanku masih panjang.
Dan harapan untuk mengisi penuh gelas itu dengan pelajaran kehidupan, masih ada.

Jumat, 09 Maret 2012

Iklan Diri 60 Detik

Saya, Dini nur larasati. Berumur 16 tahun. Berstatus seorang pelajar. Bermimpi menjadi seorang jurnalis. Dan berkeinginan untuk masuk Hukum UI. Menyimpang bukan? Mungkin itu menurut anda, tapi tidak menurut saya.

Saya merupakan seorang yang membenci sistem hukum di Indonesia. dan dengan dasar kebencian itulah saya jadi mengagumi ilmunya. Saya ingin mendalammi hukum Indonesia lebih jauh dan lebih luas lagi. Karena saya yakin, Hukum Indonesia tidak sebobrok kenampakanya.

Untuk masuk ke Hukum, terutama UI (Yang notabene merupakan universitas terbaik di saentro negri), saya memiliki 4 Kunci utama dalam mewujudkanya. Yakni, Niat, Kerja Keras, Berdoa dan Pasrah menunggu takdir datang menjemput. Saya merupakan pribadi yang ambisius, pekerja keras dan tidak gampang menyerah. dan saya yakin tahun ini saya sudah memiliki jaket kuning bermakara merah. dan 5 taun lagi saya sudah menjadi jurnalis yang bekerja di media cetak kebanggan indonesia sejak tahun 1965. Koran Kompas.

Itu merupakan iklan diriku yang aku buat dalam waktu 60 detik. ini merupakan tugas konseling yang diberikan oleh pembimbing sekaligus motivator kebangganku, Pak Mutiha. Aku harap iklan itu buka hanya tulisan belaka. aku ingin setiap kata dalam iklan itu menjadi nyata, suatu saat nanti.


Ini merupakan lanjutan atau mungkin tanggapanku mengenai tulisanku sendiri. Beberapa saat setelah menulis opini yang berjudul "Apa salah mereka yang Oriental?" di Kompasiana, banyak pihak yang menanggapi, memuji bahkan mengkritik tulisanku itu.

Alhamdulillah, tulisanku dibaca sekitar 630 orang hingga hari ini. Dan tulisanku dikomentari oleh 6 kompasiana. 3 diantaranya memuji opini yang kubuat. mereka mengatakan bahwa mereka yang menghina cina adalah mereka yang tak berpendidikan dan tak punya otak. dan 3 orang itu keturunan tionghoa, pantas saja mereka mendukungku :)

Sisanya? 3 orang pribumi yang datang mengkritik tulisanku. intinya sama, mereka merasakan sendiri perlakuan cina yang semena-mena terhadap pribumi. Cina menyebut pribumi dengan sebutan "Orang lu". jadi sebaiknya tidak hanya "Apa salah mereka yang oriental?" namun harus dibuat juga "Apa salah mereka yang Pribumi?"

Membaca semua tanggapan itu, aku hanya bisa tersenyum. Bangga. Aku tidak merasa terpojokan setelah dikritik. Aku malah terpacu untuk menulis dengan lebih baik lagi.

Terimakasih Semua,Tunggu opiniku yang selanjutnya :-)

Kamis, 01 Maret 2012

"Kita ini generasi penerus bangsa!"

Berapa kali aku mendengar semboyan itu. Berapa kali pula aku mendalami maknanya.
aku tak tahu.

Kami, tidak hidup di zaman belanda, jepang, orde lama, atau pun orde baru.
Kami, anak-anak 90-an, berada di zaman reformasi.

Kehidupan kami modern, kesenjangan sungguh ketara. kehidupan kami ini aneh, tapi nyata. laten, itu menurutku.

ingin rasanya hidup di masa itu, merasakan bagaimana krisis yang dialami indonesia. bukan berarti kini indonesia tak digandrungi krisis. namun problematika dulu dan kini beda, itu menurutku.

Aku tak henti hentinya bertanya kepada diriku sendiri, apa yang akan terjadi di masa depan nanti? masa dimana generasi kita sudah berdiri menjadi pemimpin bangsa. tak terbayang olehku bila teman sebangku ku menjadi presiden. apa yang akan terjadi?

Aku tidak bisa hanya diam dan berharap. aku juga bisa bertindak. perlahan, namun pasti.
cita-citaku akan kugapai, dan akan kuwarnai indonesia dengan pengabdian dan kontribusiku untuk negri ini.

Salam, dari calon jurnalis masa depan